Selasa, 21 Februari 2023

writer's Block dan Cara Mengatasinya.

 

KELAS BELAJAR MENULIS NUSANTARA PGRI

Gelombang Ke-28

 

Pertemuan ke            : 7

Hari/ Taggal                : Senin, 23 Januari 2023

Tema                           : Mengatsi Writer’s Blok

Moderator                 : Raliyanti, S.Sos., M.Pd.

Narasumber                 : Ditta Widya Utami, S.pd, Gr.

Penulis Resume       : Desmil Hendri, S.Pd



 

Narasumber  kita malam ini adala ibu Ditta Widya Utami, S.Pd. Gr yang merupakan salah satu guru yang sangat berprestasi mengingatkan kembali kepada para peserta KBMN yaitu “ Tak ada penulis yang malas membaca, ingatlah selalu mantra ajaib Omjay. Membaca lah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi”.

Banyak membaca akan membuat anda keliling dunia. Banyak ilmu dan pengetahuan anda dapatkan. Banyak pengalaman orang lain bisa anda tiru dan kemudian anda amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ibu Ditta Widya Utami langsung membuka acara dengan kata –kata jitu beliau , dengan rutin mengikuti kegiatan, mensupport diri untuk terus menyelesaikan resume on time, saling blog walking memberi semangat (sejatinya beliau  menyemangati dirinya sendiri) kemudian akhirnya. beliau pun dinyatakan lulus keren jumlah  resumenya sesuai kategori dan beliau juga berhasil memiliki buku karya sendiri. 

Buku pertama beliau  berjudul "Wujudkan Mimpi Terbitkan Buku" kemudian di tahun berikutnya lahir buku solo yg kedua dengan judul "Guru di Era Digital". Selain itu, ada 17 judul buku antologi yg beliau  miliki baik fiksi mau pun nonfiksi.

Semua ini terwujud karena bu Ditta Widya Utami, mempunya mimpi. Termotivasi karena komunitas ini dan mendapat support serta ilmu dari narasumber hebat yang ikhlas berbagi tanpa pamrih. Ibu Ditta Widya Utami mempunyai prinsip bahwa “Siapa pun yang ingin menjadi penulis andal, maka harus siap dengan prosesnya”. Sungguh sangat luar biasa prinsip beliau, sehingga bisa menggerakkan hati  orang yang memiliki pikiran yang masih lemah dalam memicu karier untuk menulis.

Menurut narasumber bahwa menulis itu tak  bisa instan tentu diperlukan jam terbang yang cukup banyak agar bisa menjadi seperti Omjay, Bunda Kanjeng, Pak Dail, Bunda Aam, Bu Rali, Mr. Bams, Prof. Eko, dan lainnya yang tak bisa saya sebut satu per satu.

Pengalam beliau sendiri  sudah senang membaca buku-buku cerita sejak kecil (sebelum SD). Senang menulis sejak di sekolah dasar (dalam buku diary).  Saat SMP, sering mengirim tulisan ke mading sekolah dan pernah menulis cerita di buku tulis yang dibaca bergiliran oleh teman-teman.  Atas arahan guru Bahasa Inggris beliau saat itu. Ibu Dita juga menulis diary dalam bahasa Inggris. Ketika SMA, beliau  masih tetap menulis diary. Beberapa teman dekat yang membaca diary Bu Dita, bahkan sempat ada yang berkomentar bahwa tulisan beliau sudah seperti novel . Namanya anak remaja, banyak emosi yang dituangkan dalam catatan Ditta remaja. Namun belakangan, Bu Dita tahu bahwa menulis apa pun yang kita rasakan bisa menjadi self healing yang baik. Bahkan saat ini, beberapa psikolog ada yang menyarankan kepada para pasiennya untuk menulis sebagai salah satu cara mengatasi depresi dan sebagainya. Rupanya kebiasaan menulis tersebut memberi banyak manfaat. Misalnya ketika kuliah, beliau  pernah membuat buku Petualangan Kimia bersama rekannya dan diikutsertakan dalam Lomba Kreativitas Mahasiswa di Jurusan. Alhamdulillah meraih posisi kedua. Di saat kuliah juga, beliau menulis proposal bersama teman-teman dan berhasil mendapat dana hibah untuk asosiasi profesi dari Dikti hingga 40 juta. Di tahun 2009-2010 jumlah tersebut tentu sangat besar.

Ada yang menulis karena hobi, kebutuhan, tuntutan profesi, dan lain sebagainya. Apa pun alasannya, aktivitas menulis memang tak bisa lepas dari kita sebagai makhluk yang berbahasa dan berbudaya. Maka tulislah apa yang ada dalam pikiran kita sehingga menjadi sebuah tulisan yang bermanfaat untuk dikenang oleh pembaca.

Apa kaitannya cerita bu Dita dengan writer's block? 

Perlu kita  samakan persepsi bahwa aktivitas menulis itu maknanya luas. Sebagaimana dalam kisah di awal, ada tulisan pribadi dalam bentuk diary, ada karya tulis ilmiah, ada cerpen, artikel, resume, dsb.

Menulis adalah kata kerja yang hasilnya bisa sangat beragam. Oleh karena itu tak hanya novelis, cerpenis, jurnalis atau blogger, namun ada juga copywriter yg tulisannya mengajak orang untuk membeli produk, ada content writer yang bertugas membuat tulisan profesional di website, ada script writer penulis naskah film/sinetron, ada ghost writer, techincal writer, hingga UX writer, dll.

Faktanya, penulis-penulis tersebut masih bisa terserang virus WB alias Writer's Block. Tak peduli tua atau muda, profesional atau belum. Writer's Block bisa menyerang siapa pun yang masuk dalam dunia kepenulisan. Oleh karena itu, penting bagi seorang penulis untuk mengenali Writer's Block dan cara mengatasinya. Karena Writer's Block ini bisa menjangkit dalam hitungan detik, menit, hari, minggu, bulan, bahkan tahunan. Tergantung seberapa cepat seseorang menyadari dan mengatasinya.  Writer's Block adalah kondisi dimana Seseoang mengalami kebuntuan menulis. Tak lagi produktif atau berkurang kemampuan menulisnya. Hal ini bisa terjadi dengan disadari atau pun tidak disadari.

Istilah writer's block sebenarnya sudah ada sejak tahun 1940an. Diperkenalkan pertama kali oleh Edmund Bergler, seorang psikoanalis di Amerika.

Berkaca dari pengalaman, Writer's Block ini bisa terjadi berulang. Me-reinfeksi kita sebagai penulis. Itulah mengapa beliau  katakan Writer's Block ini sebagai "virus" yang sesekali bisa aktif bila kondisinya memungkinkan. Ibarat penyakit, tentu akan lebih mudah disembuhkan bila kita mengetahui faktor penyebabnya, bukan? Begitu pula dengan Writer's Block. Agar bisa terhindar atau segera terlepas dari WB, maka kita perlu mengenali penyebabnya.

Berikut adalah beberapa hal yang dapat mengakibatkan writer's block:

1.         Mencoba metode/topik baru dalam menulis sebenarnya bisa menjadi penyebab sekaligus obat untuk Writer's Block. Misal ketika jadi penyebab: Ada orang yang senang menulis cerpen atau puisi. Kemudian tiba-tiba harus menulis KTI yang tentu saja memiliki struktur dan metode penulisan yang berbeda. Bila tak lekas beradaptasi, bisa jadi kita malah terserang Writer's Block. Bagaimana ini bisa menjadi salah satu obat Writer's Block? Jawabannya akan berkaitan dengan faktor penyebab Writer's Block yang kedua dan ketiga.

Dalam Kamus Psikologi, stres diartikan sebagai ketegangan, tekanan, tekanan batin, tegangan dan konflik. Lelah fisik/mental akibat aktivitas harian yang padat juga dapat memicu stress. Pada akhirnya, jangankan menulis, kita bisa merasa jenuh dan suntuk. Terserang WB . Maka, mencoba hal baru dalam menulis bisa jadi alternatif solusi.

 2.  Mempelajari hal-hal baru yang berbeda dg sebelumnya pasti menyenangkan. Beberapa orang dan beliau sendiri terkadang memilih untuk sejenak rehat dan melakukan hal yang disukai untuk refreshing.

3.  Membaca buku-buku ringan untuk cemilan otak juga bisa jadi solusi mengatasi Writer's Block. Biar bagaimanapun, Writer's Block bisa terjadi karena kita belum bisa mengekspresikan ide dalam bentuk kata. Dengan membaca, kita bisa menambah kosa kata. Pada akhirnya, jika diteruskan insya Allah bisa sekaligus mengatasi Writer's Block.

4.    Terakhir yang bisa menyebabkan Writer's Block adalah terlalu perfeksionis. Tapi, justru itulah salah satu kunci menghadapi Writer's Block.

Kondisi menulis dimana kita tidak memikirkan salah eja, salah ketik, koherensi dsb ternyata dalam dunia psikologi dikenal dengan istilah free writing atau menulis bebas. Oleh karena itu marilah bersama- sama kita dicoba menulis bebas untuk mengatasi salah satu penyebab Writer's Block nya. Bukankah tulisan yang buruk jauh lebih baik daripada tulisan yang tidak selesai?

 Adapaun pengalaman yang paling sulit saat menulis menurut Bu Dita adalah percaya dengan tulisan sendiri. Terkadang kita baru percaya tulisan kita baik, ketika ada orang yang berkomentar baik. Kita terlalu khawatir dengan penilaian orang lain, padahal sejatinya tak pernah ada manusia yang sempurna. Buku buku best seller pun ada edisi revisinya, kan?

Bagaimana Cara mengatasinya ?

Dengan mengingat niat awal kita menulis. Mengingat kembali masa masa dimana kita menikmati proses menulis itu sendiri. Maka kita akan temotivasi kebali untuk menulis. Abaikan komentar Netizen yang tidak membangun tetap fokus dengan apa yang kita tulis dan optimis.

Ada pepatah yang mengatakan: "It doesn't matter how brilliant is your brain. If u do not speak up, it would be zero." Mari, tuangkan dan sampaikan ide ide kita, pemikiran pemikiran kita, perasaan perasaan kita agar menjadi lebih bermakna.

Sebagai motofasi bagi peserta KBMN ke -28 agar terus menulis, Narasumber memberikan sedikit tips yang beliau  kutip dari seorang penulis bernama Mark Twain: "Rahasia untuk maju adalah memulai. Rahasia untuk memulai adalah memecah tugas-tugas rumit Anda yang luar biasa menjadi tugas-tugas kecil yang dapat dikelola, dan kemudian memulai dari yang pertama."

Tak ada penulis yang malas membaca. Ingatlah selalu mantra ajaib Omjay. Membaca lah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. membaca akan membuat anda keliling dunia. Banyak ilmu dan pengetahuan anda dapatkan. Banyak pengalaman orang lain bisa anda tiru dan kemudian anda amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Usaha Menerbitkan Buku

KELAS BELAJAR MENULIS NUSANTARA Gelombang ke28 Pertemuan ke   : 30 Hari/Tanggal    : Jumat, 17 Maret 2023 Judul Materi     : Usaha Menerbitk...